Oleh : M.RIFQY HIDAYATULLAH
Latar Belakang
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), kurikulum ini adalah
kurikulum yang dikeluarkan oleh pemerintah untuk menyempurnakan
Kurikulum berbasis Kompetensi (KBK), kurikulum ini menghendaki otonomi
sekolah umtuk berkreativitas mangelola dan mengembangkan metode
pendididkan yang cocok bagi para siswanya .
Ada beberapa hal dasar yang menjadi alasan kenapa KTSP dibuat, kurikulum
yang dibuat sebelumnya oleh pemerintah yang berlaku secara nasional
tidak melihat kondisi semua sekolah yang ada di negeri ini, kondisi
sekolah di negeri ini sebenarnya sangat beragam. Sebagai contoh tidak
mungkin kondisi sekolah SMA di Jakarta sama dengan kondisi sekolah yang
ada di papua. Sehingga KTSP ini mungkin bisa menyempurnakan kurikulum
yang ada sebelumnya, dengan KTSP sekolah dapat mengembangkan
(memperkaya, memodivikasi) metode pendidikan apa saja yang bisa
memajukan siswanya namun tetap tidak menyimpang dari kurikulum yang
berlaku secara nasional ini.
Akan tetapi sejalan dengan lahirnya KTSP pemerintah tetap melaksanakan
yang namanya UAN, padahal didalam KTSP tidak ada UAN, karena namanya
saja Kurikulum Tingkat Saatuan Pendidikan merupakan kurikulum yang
dikembangkan dari kebutuhan dan karakteristik sekolah. Sehingga hal ini
tetap dipermasalahkan oleh beberapa kalangan. Apakah pelaksanaan
kurikulum ini sudah berjalan semestinya sesuai dengan pengertian
sebenarnya dari KTSP itu sendiri. Sehingga dalam kesempatan ini saya
akan membahas beberapa hal mengenai kelebihan dan kelemahan KTSP.
Permasalahan
1. Apakah yang menjadi kelemahan KTSP?
2. Bagaimana solusi yang baik untuk mengatasi kelemahan KTSP?
Pengertian Kurikulum Dan KTSP
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan,
isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman
penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
tertentu. Kurikulum disusun oleh satuan pendidikan untuk memungkinkan
penyesuaian program pendidikan dengan kebutuhan dan potensi yang ada di
daerah.
KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun oleh dan dilaksanakan di masing-masing satuan pendidikan.
Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang beragam
mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian
tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas
standar isi(SI), proses, kompetensi lulusan(SKL), tenaga kependidikan,
sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan.
Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar
Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi
satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.
Prinsip Pengembangan KTSP
KTSP dikembangkan sesuai dengan relevansinya oleh setiap kelompok atau
satuan pendidikan di bawah koordinasi dan supervisi dinas pendidikan
atau kantor Departemen Agama Kabupaten/Kota untuk pendidikan dasar dan
provinsi untuk pendidikan menengah. Pengembangan KTSP mengacu pada SI
dan SKL dan berpedoman pada panduan penyusunan kurikulum yang disusun
oleh BSNP, serta memperhatikan pertimbangan komite sekolah/madrasah.
Penyusunan KTSP untuk pendidikan khusus dikoordinasi dan disupervisi
oleh dinas pendidikan provinsi, dan berpedoman pada SI dan SKL serta
panduan penyusunan kurikulum yang disusun oleh BSNP .
KTSP dikembangkan berdasarkan prinsip-prinsip sebagai berikut:
- Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
- Beragam dan terpadu
- Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni
- Relevan dengan kebutuhan kehidupan
- Menyeluruh dan berkesinambungan
- Belajar sepanjang hayat
- Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah
Kelemahan KTSP
a. Pemerintah / Dinas Pendidikan
1. KTSP, Kurikulum yang Tidak Sistematis
Ketidaklogisan KTSP terjadi karena sekolah diberi kebebasan untuk
mengelaborasi kurikulum inti yang dibuat pemerintah, tetapi evaluasi
nasional oleh pemerintah melalui ujian nasional (UN) justru paling
menentukan kelulusan siswa.
2. KTSP Tidak fungsional
Kurikulum ini menjadi tidak logis karena tidak proporsionalnya pembagian
tugas pengembangan antara pemerintah dan sekolah. Seharusnya pemerintah
hanya menetapkan kerangka umum dari tujuan atau kompetensi, isi,
strategi, dan evaluasi, sedangkan pengembangannya secara rinci menjadi
siap pakai diserahkan sepenuhnya kepada sekolah.
b. Kepsek yang kurang Mengerti KTSP
Kepsek masih membuat pola-pola penyeragaman, dalam ystem pembelajaran
maupun evaluasi hasil pembelajaran, dinilai tidak memahami tujuan dan
tuntutan kurikulum tingkat satuan pengajaran (KTSP) yang baru
diberlakukan pemerintah.
c. Guru yang bermutu berjumlah sedikit
1. Bahasan tentang kurikulum bagi guru terbatas
2. Agen penyedia tenaga kependidikan kurang memberikan materi kependidikan yang memadai.
3. Penataran tentang kurikulum ini yang dilakukan terbatas
4. Pengawasan yang dilakukan terbatas terhadap tindak lanjut yang dilakukan Guru
5. Buku-buku yang diberikan kepada murid kebanyakan tidak menunjang keberhasilan kurikulum ini
6. Guru yang menguasai atau siap dan bisa berkompetisi dalam kurikulum ini cuma sedikit
7. Kebanyakan guru-guru hanya merubah nama, format, atau silabi.
Solusi dari permasalahan yang dihadapi di dalam menerapkan KTSP
1. Membuat sejumlah pelatihan dan aktivitas lainnya untuk meningkatkan
kemampuan guru dalam membuat kurikulum sesuai dengan standar isi yang
ada.
2. Menerapkan KTSP secara bertahap.
3. Mengadakan Workshop KTSP.